Sabtu, 17 November 2012

ANTARA CITA-CITA DAN PENYELAMATAN BANGSA


ANTARA CITA-CITA DAN PENYELAMATAN BANGSA

Tahun 2007, sebelum KPK dibentuk...ups, sebelum KPK sepopuler sekarang.
petugas ktp 1    : Pak, tolong tutup pintunya!
petugas ktp 2    : Oh, iya pak!
ruangan sempit penuh asap rokok itu makin terasa menyesakkan.
aku                    : Jadi bagaimana pak, ktp aku sudah selesai?
petugas ktp 1 : Oh, sudah. jadi neng, semuanya dua puluh lima ribu rupiah. ya, sebagai jasa mengetik, untuk kertas, dan rokok.
aku                  : Oh... (bengong, urus ktp sendiri ataupun minta tolong ketua RT sama saja mahalnya. kata anggota dewan yang bulan lalu resesKTP itu gratis. mana buktinya?)

                Kala itu kata-kata korupsi dan koruptor masih belum sepopuler saat ini. Pemberantasan korupsi masih malu-malu. KPK masih belum menunjukkan taringnya. Sangat rumit untuk menemukan ujung dan pangkalnya ketika ternyata banyak pihak yang terlibat dalam tindak korupsi tersebut. Hanya saja aku tersadar bahwa korupsi bukan hanya sekadar melipat dana ataupun penyimpangan budget, tapi kejadian yang aku alami di atas adalah bibit-bibit kecil dari korupsi dan kader-kader baru dari koruptor. Waktu semakin bergulir, kejadian yang aku alami berharap hanya sepintas lalu.

tahun 2008,
Kutapaki lingkungan baru yang lebih asri dan sejuk. Semoga pun dengan segala tetek bengeknya. Aktivitas baru sebagai seorang pendidik sangat antusias kujalani. Selepas lulus dari perguruan tinggi pendidikan tak sulit bagi kami untuk mendapatkan tempat dan mengaplikasikan ilmu di dunia nyata. Sekolah swasta dengan kualitas baik semakin menjamur, aku pun termasuk bergabung dengan salah satunya. Namun tak sedikit kawan-kawanku yang bersikukuh dengan ambisinya menjadi guru PNS.

sahabatku   : Na, alhamdulillah aku lulus CPNS. besok harus ke dinas dan mengurus dokumen-dokumen
aku               : Alhamdulillah, selamat... (kukembangkan senyuman wujud rasa bahagiaku untuknya)
keesokan harinya...
kriiing...ponselku berderig
sahabatku      : Halo, Na. Aduh, bagaimana ini? aku harus menyerahkan uang lima ratus ribu rupiah katanya buat administrasi. mana uang di dompet tinggal seratus lagi...hufft... Atau begini saja, kubilang terus terang kalau uangku tinggal cepe ya...kalau CPNS yang lain, mereka memilih alik lagi ke rumahnya masing-masing buat pinjam uang. aku duit dari mana???
aku                : Ya sudah, begitu saja atau kamu bawa kwitansi biar mereka isi itu kwitansi. jadi jelas pertanggungjawabannya.
sahabatku          : Ok deh. wish me luck!
tut...

ckckck...ternyata cerita lama kembali tergali dari memoriku.

sesampainya di rumah dinasku...
sahabatku          : Na, akhirnya aku kasih uang aku yang tinggal cepe, soalnya pihak sono ogah pake kwitansi.
aku                        : Heh, kenapa begitu? jelas-jelas ada udang di balik bakwan!

Kejadian demi kejadian membuat aku semakin tersadar dan tak hanya sekedar sepintas lalu. Korupsi di negeri ini semakin menjalar, bahkan mungkin bermetamorfosis menjadi virus yang bisa menyerang siapa saja. Baik tua maupun muda, baik yang kaya maupun yang miskin. Kadang aku berpikir apakah KPK hanya mengurusi korupsi-korupsi kelas besar yang susah kelar? Padahal nyata-nyata para pelayan rakyat yang tangannya lebih dekat, dengan berbagai celah sesempit apapun melakukan praktik yang sebangsa dengan korupsi. Mungkin karena wilayahnya yang terlalu kecil, sementara kota-kota di negeri ini amat sangat banyak

Kini, di ranah penyelenggara negara....
KPK semakin populer dengan berbagai temuan dan gebrakannya terhadap para pejabat yang terindikasi kasus korupsi. Taring KPK semakin tajam, tapi taring para koruptor nampaknya tak sekedar tajam malah bertambah banyak. Satu per satu KPK mampu menjaring para pelaku meskipun harus menempuh tiga benua dua samudera atau tantangan lainnya. Para pelaku berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya dengan mudah bak tupai. Maklum, mereka memiliki dana yang besar untuk mengamankan dirinya. Apa yang terjadi setelah tertangkap? Ternyata rakyat digemaskan dengan proses hukum yang tersendat, lama, dan terkesan ngoyo. Satu kasus telah lama belum dituntaskan, kasus lain malah siap mengantri.

Mari tengok dunia pendidikan kita....
Sekolah tempat aku mengajar sangat menanamkan kejujuran dan anti nyontek kepada anak didik kami. Bahkan untuk menguatkan hal itu, beberapa kali kami mengundang unsur KPK untuk memberikan penyuluhan kepada anak didik kami tentang pendidikan anti korupsi. Wujud nyatanya adalah pembuktian kejujuran dalam ujian nasional. Telah empat kali kelulusan sekolah kami memegang prinsip tersebut dan kami bersyukur prestasi di ujian nasional tidak terhambat dengan memegang prinsip kami.

Hal terberat yang kami alami malah datang dari luar. Rangking ujian nasional hingga saat ini masih menjadi gengsi tersendiri. Maaf jika kukatakan sistemnya sudah salah. Bukan rahasia lagi jika program “sukses UN” di tingkat sekolah adalah untuk kesuksesan tingkat kota. Berusaha menjadi yang terbaik dengan ketidaklulusan sampai 0% adalah cita tertinggi.

Apapun caranya ditempuh, termasuk memberi kunci jawaban untuk anak didiknya. Para oknum sesungguhnya sadar itu salah, tapi mereka belum tersadar bahwa mereka sedang menghancurkan karakter anak didiknya. Mereka sedang mengkader anak didiknya menjadi koruptor-koruptor baru. Pemalas dan instan. Para pengawas ujian yang ingin mencegah kecurangan malah dimusuhi, dicemooh, dan disambut tatapan dingin. Bukan lagi pihak penyelenggara ujian yang bertindak, tapi anak didik yang diawas yang melakukannya. Nasihat tentang anti nyontek sebagai anti korupsi malah dicemooh. Jika pengawas ujian melaporkan temuan kecurangan, maka siap-siap anak didik yang sedang ujian di sekolahnya mendapatkan pembalasan. Semua menjadi berkebalikan. Yang salah seolah jadi benar, yang benar dipersalahkan. Kebenaran yang dianut adalah kebenaran kolektif. Karena yang dianut saat ini adalah “lulus dengan nilai bagus”.

Benih yang ditanam akan dituai kelak. Jiwa pembelajar terhapus dengan karakter-karakter instan. Takutlah kita akan suatu saat jika anak didik kita jadi pedagang, mungkin dia akan korupsi dengan timbangan. Jika anak didik jadi pejabat pemerintahan, tak aneh jika diketahui korupsi. Bahkan jika anak didik kita sulit mendapat pekerjaan atau membuka usaha, tak heran jika ujung-ujungnya ikut-ikutan togel.

Andai saja aku ketua KPK, berharap memiliki wewenang lebih untuk melakukan audit program dan keuangan. Melakukan inspeksi mendadak ke kantung-kantung yang cenderung rawan aksi korupsi. Dari mulai desa sampai kewenangan yang lebih tinggi. Aku geram!

Andai saja aku ketua KPK, e-KTP dengan data base secara nasional dan registrasi nomor ponsel yang menjadi program Kemenkominfo harusnya dapat dioptimalkan. Keduanya bisa dilinkan dengan nomor rekening bahkan sampai foto diri pemilik. Pun demikian dengan jenis identitas lainnya semisal SIM dan paspor. Data base penduduk teradministrasi secara nasional dengan rinci. Syaratnya setiap penduduk mengisi data yang absah dan tidak melalui calo. Setiap rekening yang tiba-tiba membengkak dengan mudah terjaring. Setiap orang yang melintas pulau ataupun negara dapat langsung diketahui. Kukira itu dapat memperkecil kemungkinan para petugas terkecoh hanya sekedar oleh kacamata ataupun wig untuk penyamaran.

Andai saja aku ketua KPK, ingin sekali kuciptakan kursi khusus pejabat yang memilki sensor khusus untuk mendeteksi pejabat yang berpotensi korupsi. Kupikir mungkin sistemnya tidak jauh dari alat pendeteksi kebohongan. Bukan rahasia lagi jika tak sedikit wakil rakyat di negeri ini yang mengejar kursi dengan ambisi keuntungan semata. Saraf memori tentang hal itu menurutku tak jauh dengan tempatnya saraf yang mengindikasikan kebohongan berada. Toh, antara korupsi dan kebohongan adalah saudara dekat. Cukup satu sampai dua kursi disediakan di setiap daerah.

Setiap ada pemilihan umum ataupun pengangkatan pejabat baru, mereka harus terlebih dahulu menduduki kursi tersebut. Jika yang menduduki kursi tersebut berpotensi korupsi, secara otomatis akan keluar suara “CALON KORUPTOR HAHAHA...”. Bahkan jika perlu, dipasang listrik dengan tegangan 2000 V supaya ada efek kejut atau membuat si calon koruptor menjadi terpental. Tapi bagi calon pejabat yang hatinya lurus, maka ia akan nyaman saja dengan kursi tersebut. Nah, pengecekan secara berkala seperti 3-6 bulan sekali perlu dilakukan untuk menjaga kondisi para pejabat. Harapan ini adalah datang dengan prinsip “Cegah Korupsi Sebelum Terjadi”
Semangat bekerja!


ANDAI AKU MENJADI KETUA KPK
korupsi menjadi-jadi
bukan hanya untuk sesuap nasi
banyak pelaku tikus berdasi
lebih dari penuhi bagasi

andai aku menjadi ketua KPK
kupasang racun tikus dimana saja
asal jangan kena ketua KPK
berantas korupsi nanti siapa

racun tikus pun dikorupsi koruptor


korupsi...korupsi...
koruptor...koruptor...
kursi...
kotor...

kursi itu amanah
jangan kau pakai sembarang
kotor semua jadi sampah
membuat rakyat jadi bimbang

andai aku menjadi ketua KPK
apa perlu sensor listrik anti korupsi kupasang di kursi
asal jangan di kursi KPK
lagi-lagi...
siapa yang berantas korupsi

tikus berdasi teriak,
hei, kau ketua KPK!
kau listrik kursiku
bagaimana kursimu?

ku jawab,
ketua KPK bukan asal jadi
kata-katanya pun bukan sekedar janji
harus punya akhlak terpuji
menjadi tauladan sejati

hihihi...
bukan gaji seuprit mereka korupsi
justru gajinya besar
koruptor makin lapar
matanya makin lebar

dari tanah hingga ke langit
dari ladang membentang hingga celah sempit
mengais-mengais apapun asal keluar duit

koruptor korupsi
duitmu itu duit haram
kau suapi anak istrimu dengan uang korupsi
darah dagingnya tercemari yang haram
otaknya pun tercemari yang haram
ngeri...
tidakkah kau takut suatu hari nanti

andai aku menjadi ketua KPK
kuminta semua pejabat
dari kepala negara hingga camat
birokrasi desa sekalian
laporkan data kekayaan

apa gunanya e-KTP
juga daftar nomor HP
kalau sulit berantas korupsi
gara-gara kalah aksi

hukum kita sudah tegak
hanya untuk tukang maling sandal
hukum kita mati telak
hanya karena lisan yang handal

hei koruptor,
pasti pernah berbuat kotor
sejak kamu masih sekolah
ujian nyontek teman sebelah

korupsi...korupsi...
menjamuri siswa siswi
demi nilai ujian nasional
pelajar berubah jadi bengal

andai aku menjadi ketua KPK
kampanye ujian anti nyontek
dimulai dari dinas kota
sampai sekolah dan tetek bengek

andai aku menjadi ketua KPK
ingin kujaga generasi muda
tanamkan jujur menjadi budaya

Jumat, 27 Juli 2012

Agar Tak Keliru Memahami

Oleh Ina Muslimah, S.Pd.
Andro_3_98_957_7_287_2012

                Perbincangan seru bersama seorang guru BK baru.
                “Bun, bagaimana cara memberi anak-anak pengertian dan motivasi belajar? sekarang ini mereka nampak lesu dan kurang bersemangat.” aku berkonsultasi dengan guru BK anak didikku.
                “Bun, saya berusaha membantu untuk menumbuhkan semangat belajar anak-anak kelas bunda. Sebenarnya tidak terlalu bermasalah ketika anak-anak dikelaskan menurut nilai raport mereka. Guru bisa menyiasatinya melalui modalitas belajar anak. Kita tahu setidaknya ada tiga jenis modalitas belajar anak yaitu audio, visual, dan kinestetik. Bunda harus mengenal modalitas belajar anak. Bunda coba formulasikan berbagai metode pembelajaran yang mewadahi modalitas tersebut. Kalau anak-anak belajar menurut modalitas mereka, akan lebih mudahlah dalam menyerap pelajaran. Ya, memang saya pun tidak sepakat dengan grading. Dampak psikologisnya terlihat sekali. Kelas yang paling bawah kemungkinan besar tertinggal.” panjang lebar guru tersebut menjelaskan tentang pentingnya melihat sisi modalitas belajar.
                “Mungkin buku Quantum Learning dan Quantum Teaching masih hangat dibacanya. Sedikit berkorelasi deh dengan konsultasiku.” bisikku dalam hati.
***
                Aku memasuki kelas seperti biasanya dengan penuh semangat dan penuh harapan. Tiba-tiba di tengah pembelajaran seorang anak mengacungkan tangan.
                “Bun, tolong stel musik dong! Aku kan anak audio, jadi harus belajar sambil dengerin musik.” suara Azizah menggelegar mengagetkan teman-temannya.
                Permintaan Azizah menyulut teman-temannya untuk meminta yang serupa.
                “Iya Bun, kalo aku visual. Jadi Bunda harus banyak gambar atau bawa Infocus. Pertemuan besok kita nonton ya!” Diva turut meminta.
                “Aku juga audio, Bun.” Afra pun menyahut.
                “Aku mau di luar kelas Bun. Kita main dulu yuk! Latihannya nanti saja, soalnya aku kan kinestetik.” Nusaibah yang biasanya cuek pun ikut bicara.
                Aku hanya terheran-heran dengan permintaan anak didiku. Tanpa sadar, selama itu aku mengernyitkan dahi sehingga membuat kerutan di keningku. Akhirnya aku berdialog dengan anak didikku.
                “Kalian baca dari mana tentang modalitas belajar audio, visual, dan kinestetik?” tanyaku pada anak didikku.
                “Kita kemaren tes modalitas belajar sama bunda BK. Katanya biar kita lebih cepat memahami pelajaran, kita perlu belajar menurut gaya belajar kita. Guru kita harus bisa memenuhi kebutuhan belajar kita. Jadi Bunda juga harus memenuhi permintaan kita” suara cempreng Lathifah menyerocos polos.
                Aku menjadi geli sendiri dengan jawaban polos anak-anakku.
                “Apakah kalian diberi tahu juga bahwa ketika bunda memberi catatan dan menggambar itu bagian dari visual?” tanyaku.
                “Enggak, Bun.”  jawab anak-anak berjamaah.
                “Apakah kalian diberitahu juga bahwa ketika bunda menjelaskan itu bagian dari audio?” aku bertanya kembali.
                “Emang gitu, Bunda?” tanya Iffah yang mencoba meyakinkan.
                “Apakah ketika kita bermain sejenak di kelas dengan senam otak atau ice breaking itu juga bagian dari kinestetik?” aku mencoba mengingatkan mereka.
                “Iya kali ....” Wardah menjawab tak yakin.
                “Pertanyaan terakhir untuk kalian. Apakah dijelaskan juga bahwa kalian pun harus tetap belajar di asrama? Tentunya belajar berdasarkan modalitas belajar kalian. Apakah kalian sudah menerapkannya? Atau tetap ogah belajar?”
                “Belum Bun. Emang harus gitu ya bun?” Wardah tampak baru memahami.
                “Walaupun demikian, bunda akan coba sesuatu yang sepertinya belum pernah dilakukan selama kalian di sini.” demikian aku menutup dialog dengan anak didikku lalu kukembangkan senyuman.
                 “Apa itu Bun?” Alifah sepertinya penasaran.
                “Baiklah, bunda bagi kalian menjadi kelompok berikut .... Tolong setiap kelompok menyiapkan karton, gunting, dus bekas, benang kasur, lem, mistar, tutup botol bekas, ....” Aku memberi rincian alat yang harus dibawa oleh masing-masing kelompok.
                “Mau ngapain sih Bun?” anak-anak semakin penasaran.
                “Senin depan kita belajar di laboratorium IPA.” jawabanku semakin membuat anak-anak heran.
                Selepas pembelajaran di hari itu, aku menghadap ke ruang BK untuk mengkonfirmasi tes modalitas yang telah dilaksanakan kemarin. Modalitas belajar anak didik tidak cukup hanya diketahui oleh anak didik dan guru BK saja. Kupikir setiap guru bidang studi mempunyai hak yang sama untuk mengetahui modalitas anak didiknya. Di samping itu pula anak didik perlu diberikan pemahaman yang utuh tentang manfaat tes modalitas tersebut termasuk strategi mengelola modalitas belajar mereka baik di sekolah ataupun di asrama. Jangan sampai dipahami secara keliru sehingga kejadian yang kualami tidak terulang.
***
                Suatu saat Matematika akan memiliki laboratorium belajar sendiri.
                “Baik anak-anak, apakah kalian sudah siap dengan pembelajaran hari ini?” tanyaku di tengah kesibukan anak didikku mengeluarkan alat dan bahan yang kuminta.
                “Kenapa coba harus di sini? kita mau apa Bun?” tanya Priska tak mengerti dengan bundanya.
                “Setiap ketua kelompok tolong ke depan untuk mengambil lembar kegiatan dan jangka sorong. Kita akan bereksperimen tentang mencari rumus keliling dan luas daerah lingkaran. Kita Praktikum” jelasku pada mereka.
                “Hah, praktikum? Memangnya MTK ada praktikumnya? Lagian Bun, kita dah tau kali tentang rumus keliling dan luas lingkaran. Kenapa harus dicari lagi, trus gimana coba nyarinya?” Lathifah meragukan.
                “Nah, makanya sekarang kamu tahu kan kalau MTK juga ada praktikumnya. Ibaratnya, kalau dulu kalian minum obat dicekoki, sekarang kalian sendiri yang meracik obatnya. Hehe...Maksud bunda, kalau dulu kalian dapat rumus itu karena diberi tahu guru, kalau sekarang kalian cari dari awal. Itu bedanya kalian sama anak SD. Kecuali kalau kalian tetap mau disamakan dengan anak SD. Langkah pengerjaannya ada di LKS, bunda pun akan membimbing. Bagaimana, siap?” kucoba meyakinkan mereka.
                “Ok, Bun!” jawab anak-anak serentak.
                Di hari itu anak-anak mengikuti pembelajaran dengan khusyuknya. Setiap anak terlibat dalam praktikum yang telah kurancang jauh-jauh hari. Mereka melakukan pengukuran, pencatatan data, induksi konsep, pembuatan media rancang rumus, sampai perumusan. Aku tak ingin anak-anakku menjadi anak instan yang haus pemberian dan tidak sabar dengan sebuah proses.
                “Oh, jadi gini ya Bun ceritanya bisa lahir rumus keliling dan luas lingkaran? Bun, kita bisa ga jadi penemu kaya Al-Khawarizmi, Einstein, Ibnu Sina tapi aku lemah di MTK?” Nusaibah melontarkan tanya.
                “Bisa! Kamu tidak perlu menjadi seperti mereka untuk jadi seorang penemu. Tokoh-tokoh tersebut bisa menjadi penemu karena mereka rajin merenung, bukan melamun lho. Mereka banyak berpikir tentang sesuatu hal. Walaupun banyak di antara mereka yang pernah putus sekolah, tapi mereka tak berhenti belajar hanya karena itu.” jelasku dengan semangatnya.
                Pembelajaran hari itu selesai dengan tuntas. Mereka mendapatkan suasana baru.
***
                “Bunda, kita belajar apa sekarang?” Lulu bertanya dengan semangatnya.
                “Bunda akan berstory telling ria, judulnya  Cinta Abah dan Ambu. Tolong kalian dengarkan baik-baik kisahnya. Catat dan ingat baik-baik informasi-informasi penting yang ada dalam kisah tersebut.” aku berbicara dengan gaya yang berlebihan seperti seorang pencerita.
                “Hah, Bunda mau aneh-aneh lagi nih. hahaha...” Wardah tertawa dengan apa yang telah kusampaikan. Sepertinya dia menangkap sesuatu yang jahil pada diriku.
                “Sudah, sudah... Ayo, kita mula! Suatu hari hiduplah sepasang suami istri yang saling mencintai. Dalam usianya yang renta, mereka belum dikaruniai seorang anak pun....”
                Kusampaikan kisah tersebut dengan dramatis disertai percakapan antar tokoh. Aku pun mengolah suaraku menyesuaikan dengan karakter tokoh dalam cerita. Tak lupa kuiringi kisah yang kusampaikan dengan alunan musik yang seirama. Anak-anak hanya terkekeh dengan cerita yang kusampaikan. Ada juga anak yang amat konsentrasi dan hati-hati dengan setiap informasi dalam kisah tersebut.
                “Sudah Bun?” tanya anak-anak memastikan.
                “Ya, sudah. Silahkan hitung berapa banyak pohon yang diperlukan untuk memagari kebun Abah yang berbentuk lingkaran tadi dan berapa meter persegi luasnya? trus bla bla bla..., hehehe...” aku langsung melontarkan pertanyaan-pertanyaan.
                “Hah, Bunda kok tiba-tiba sih? Ulangi dong ceritanya!” Lulu memprotesku.
                “Bunda mah ada-ada aja” Iffah pun menggerutu.
                “Bun, aku udah” Afra telah menyelesaikan pekerjaannya.
                “Luar biasa, Excellent!” aku memberinya penghargaan. Bagi anak-anak audio, metode ini cukup efektif.
                Setelah satu dua metode kuracik dan kupraktikan, anak-anak mendapatkan nuansa berbeda dari yang telah mereka dapatkan. Bagi diriku sendiri hal itu menumbuhkan energi baru untuk tetap bersemangat dan memberi hal-hal baru lainnya. Sesungguhnya bagi seorang guru semuanya bisa menjadi mungkin. Syaratnya hanya satu, adanya keinginan untuk memberikan yang terbaik bagi anak didiknya.
***





Meruntuhkan Malu


Oleh Ina Muslimah, S.Pd.
Andro_2_98_955_7_287_2012

                “Bun, kita ga mau ikut Pekan Bahasa ah…kita malu, kita ga bisa, ga akan menang. Udah ah, aku ga peduli deh” celetuk Dian saat aku menyodorkan formulir Pekan Bahasa kepada anak kelasku.
                “Ya dicoba dulu. Daftar dulu saja. Kita kan bisa latihan” kucoba meyakinkan anak-anakku.
                “Tapi Bun, siapa yang akan menjadi perwakilan di setiap item lombanya? Story Telling, Cerdas Cermat, Running Dictation, Spelling, Imla, pidato Bahasa Arab, Drama, dan lainnya.” tanya Lyan si ketua murid.
                “Siapa yang merasa mampu dan berminat, silahkan daftar sesuai ahlinya ya!” jawabku dengan polosnya.
                “Bun, untuk drama mungkin kami siap, karena kita digabung dengan kelas 7 dan 9 berdasarkan nama kelas, untuk imla ada Husnul. Aku mungkin ikut Story Telling, tapi untuk item yang lainnya tidak tahu. Teman-teman tidak ada yang menyanggupi.” begitu Lyan menjelaskan kondisi kelas.
                “Lagian Bun, kalau kita ikut lomba cuma bikin malu. Ntar diketawain lagi!” tolak Dian dengan semangatnya.
                Kutarik nafasku dalam-dalam mencoba mencari jalan dari kondisi ini. Aku sadar bahwa kelas ini adalah kelas dengan grade terbawah. Kelas dengan segudang permasalahan dan nampak tidak akan pernah berprestasi. Kupikir suatu hal yang keliru menyelenggarakan lomba yang mengunggulkan satu potensi anak didik, sedangkan potensi yang lain tersisihkan. Mungkin anak didikku tidak memiliki keahlian di bidang lomba yang ada, tapi aku yakin suatu saat akan kutemukan cara lain untuk menujukkan kualitas mereka.
                “Lyan tolong masukkan teman-teman yang siap mewakili kelas. Bukan kemenangan yang kita cari, tapi bunda ingin kamu tunjukkan bahwa kamu berani tampil” pintaku tegas dan anak-anak pun tak ada lagi yang menyanggah.
                “Baik Bun!” Lyan menyanggupi arahanku.
                Sepekan sebelum perhelatan Pekan Bahasa dimulai, kusapa anak-anakku sambil mencari tahu kesiapan mereka. Sistem lomba yang ditetapkan kusadari amat merugikan kelasku.
                “Mar, kenapa ada di kamar? Kamu ga latihan?” tanyaku penasaran pada Mary yang sedang bersantai ria di atas kasurnya, padahal dia memiliki agenda latihan drama kala itu.
                “Malas Bun, aku malu sama adik kelas.” Mary beralasan yang amat mengganggu hatiku.
                “Lho Zizan, Dian, kalian juga di sini?” ternyata Mary tak sendiri kala itu. Mereka kompak untuk tidak mengikuti latihan
                “Bun, kita tuh gak bisa bun. Adik kelas aja ngeliat kita tuh bodoh” Zizan menimpaliku
                “Hufftt…kalian akan menjadi seperti yang mereka katakan jika kalian tetap di sini tanpa berbuat sesuatu. Silahkan terserah kalian!” emosiku sedikit naik dan kutinggalkan mereka menuju kamar lainnya.
                Nyaris aku patah arang karena keputusasaan anak didikku. Setelah kejadian itu, kubiarkan diriku menghilang dari pandangan anak-anakku hingga perhelatan Pekan Bahasa dimulai.
Setiap item lomba kusaksikan secara utuh. Aku berharap melihat potensi yang belum tergali dari anak didikku menjadi special moment yang akan merubah citra mereka. Aku sedikit cemas jika mengingat kembali kejadian minggu lalu. Sempat terpikir bahwa kemungkinan besar ada beberapa lomba yang tidak jadi diikuti anak didikku.
                Lomba spelling berlangsung. Oh, ternyata Asma jadi ikut, Alhamdulillah.
                “MEASURE is em – i – i – es – yu – ar , sudah... “Asma mencoba mengeja satu per satu huruf dari kata yang diajukan juri.
                Enough? Are you sure?” juri bertanya sekadar meyakinkan Asma.
                “Ayo, Asma! Satu huruf keliru, satu huruf belakang kurang...pliiiis…Ya Allah, mudahkan!” gumamku dalam hati.
                “Yeah…insya Allah” Asma sedikit tak yakin.
                “Oke, silahkan kembali ke tempat!” juri menyudahi kesempatan untuk mengoreksi ejaan.
                “Ah, nyaris saja…” teriakku yang sedang berada di jajaran penonton.
                Kuhargai keberanian Asma untuk ikut dalam lomba ini. Memang untuk jenis lomba spelling, jika kita tak mengenal kata yang diberikan maka setidaknya listening kita harus baik dan terbiasa dengan bahasa asing. Namun kukira Asma tidak terlalu buruk.
                Lomba berikutnya Imla. Husnul tentunya sudah berada di tempat. Seorang pembaca sedang mendiktekan kalimat Arab yang harus ditulis peserta pada white board.
                Khoirukum man ta’allamal qur’ana wa alamahu…. Khoirukum man ta’allamal qur’ana wa alamahu… silahkan ditulis! Waktunya hanya 5 menit!” begitu kalimat yang didiktekan dan diulang dua kali oleh petugas pembaca soal.
                Dua orang juri berkeliling memeriksa tulisan setiap peserta. Para juri langsung menunjukkan letak kesalahan penulisan dengan menyilang bagian tersebut. Aku yang hanya menonton menjadi berdebar dibuatnya ingin mengetahui hasil tulisan Husnul.
                “Wafa yang keliru satu, dua, tiga buah. Via salahnya satu, dua. Husnul, ini betul, betul, betul, betul, hmm maaf, salah satu! Ayu betul, betul, salah satu, dua .…” juri terlihat tak kenal ampun dengan kesalahan tulisan sedikit apapun. Aku makin berdebar.
                “Bun, gimana ya? mudah-mudahan  gak ada yang bener semua.” dalam harap-harap cemas Husnul merapat padaku.
                Semoga saja. Tenanglah, tidak apa-apa” aku berusaha menenangkan.
                “Audy yang ini betul, betul, betul. Hmm, sebentar! O, betul semua” hasil pemeriksaan juri membuat Husnul menjadi lemas. Cemberutnya membuat pipinya yang chubby makin chubby. Aku hanya tersenyum padanya menandakan semuanya tak masalah.
                Di bagian lain sedang berlangsung lomba story telling. Lyan menjadi wakil dari kelas kami. Sebuah cerita fabel diangkat dalam lomba ini.
                “Once upon a time, in the wild jungle a little mouse and a wild cat  …bla..bla..bla” Lyan menyampaikan alur cerita dengan runut dan fasih.
                Lucu sekali Lyan dengan kostum yang dikenakan. Baju belang hitam putih. Sepertinya Lyan ingin berdandan layaknya tikus, tapi lebih mirip kerbau. Lyan membawa serta properti pelengkap lainnya. Aku terkekeh melihatnya.
                Oh, sweety cat…I’m very hungry. Please, gimme some…” suara Lyan yang lucu ketika menirukan little mouse dan wild cat secara bergantian membuat penonton terhibur.
                Aku tercerahkan. Dan Aha! Lyan kupikir cerdas dalam hal ini. Gesture yang ia tunjukkan dan pengolahan vokal yang dilakukan cukup baik. Lyan memiliki bakat luar biasa di bidang ini.
                Yeah, I got it” teriakku dalam hati.
                Beralih ke lomba yang lain, Drama. Wow! Ternyata Mary dan Zizan jadi maju. Mereka terlihat saling dorong.
                “Ayo Mar, kamu duluan maju ah!” Zizan menggerutu pada Mary.
                “Ah, kamu aja sih!” Mary berbalik memerintah.
                 Meskipun mereka sebagai figuran, tapi mereka sudah cukup baik. Aku tersenyum lega dengan tampilnya mereka di atas panggung.  
                Tak kusangka Pekan Bahasa tengah memasuki hari terakhir. Baru kusadari ternyata tak satupun anak-anakku yang mundur. Mereka telah memecahkan kebuntuan persepsi dalam diri mereka.
                Hari pertama selepas Pekan Bahasa anak-anak menyambutku dengan wajah cemberut di kelas.
                “Bun, kita banyak kalah” keluh Husnul
                “Tapi kita masuk dalam satu kategori, Bun” kata Asma menyanggah
                Aku menyunggingkan senyuman dan memberi mereka applause. Kuberikan serenceng penguat bagi mereka
                “Meskipun kelas kita hanya memperoleh satu kategori penghargaan yang diwakili Lyan, tapi kalian telah menang. Menang melawan kepicikan pikiran, menang melawan rasa malu, menang melawan ego dan gengsi, menang melawan diri sendiri”
                Coba Husnul, bagaimana rasanya setelah kamu ikut lomba?” tanyaku pada Husnul, anak yang cenderung pendiam dan pemalu.
                Iya sih, Bun. Aku jadi ga takut lagi. Jadi biasa” jawabnya sambil tersenyum dengan jajaran gigi yang sedikit terlihat.
                Sejak saat itu, tak ada lagi keluhan dan kebingungan saat kegiatan serupa untuk mata pelajaran lain diselenggarakan. Mereka siap mendaftarkan diri mewakili kelasnya. Khusus untuk Lyan, kemampuannya semakin terasah dan menjadi wakil untuk item lomba yang sama pada semester berikutnya.
***
                Sistem grading belum juga dihapuskan pada saat anak-anak memasuki kelas 9. Kembali aku mendapat amanah memegang kelas low. Komposisi anak-anak pun tak jauh berbeda dengan setahun lalu. Kupikir terlalu lucu jika tetap menetapkan sistem yang sama di sekolah ini. Sekolah yang sesungguhnya memiliki banyak potensi. Kejadian-kejadian yang tak jauh berbeda kembali berulang, walaupun tak separah setahun lalu. Anak-anakku kali ini lebih kuat dan lebih siap. Lega rasanya telah menemani anak didikku hingga mereka lulus. Aku berharap sistem ini dihapuskan di tahun depan.
                Memberlakukan kelas dengan sistem grading secara utuh sama artinya menumbuhkan kasta di antara anak didik kita. Padahal melalui pendidikan pula para pendahulu kita mencoba meruntuhkan sistem perbudakan, sistem kasta. Sistem ini hanya akan memberikan cap bagi satu golongan bahwa mereka memiliki kemuliaan, sementara golongan yang lain seolah tidak memiliki kompetensi dan tidak memiliki keunggulan dibanding yang lain. Padahal potensi lahiriah anak didik kita seharusnya lepas dari sistem seperti ini. Bahkan lebih luas dari angkasa raya. Jika ada 7 miliyar manusia yang tinggal di bumi, maka Allah sang Pemilik Alam telah menitipkan sedikitnya 7 miliyar potensi yang dapat digali, dan tentunya lebih dari itu.
                Salah satu tugas seorang pendidik adalah menggali potensi-potensi yang ada dalam diri anak didik. Mungkin tidak cukup satu atau dua hari, bulan, atau tahun. Mungkin pula ibarat barang tambang potensi tersebut berada pada perut bumi yang paling dalam. Pendidiklah para penambangnya.
***





The Lowest

Oleh Ina Muslimah, S.Pd. 
Andro_1_98_955_7_287_2012

     Menapaki usia empat tahun menjalani profesiku sebagai guru di sebuah sekolah berasrama, atau lebih trennya disebut boarding school penuh kisah unik yang tak kusangka menjadi bagian hidupku.
      Bermula saat seorang teman mengajakku bergabung dengan sekolah baru yang sedang tumbuh. Nia namanya, kala itu dia telah menjadi seorang guru fisika di sebuah  sekolah boarding, tapi atas sebuah alasan Nia memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya, kota dimana kami mengabdi saat ini. Aku mulai menapakkan kaki di kampus peradaban. Aku hanya bermodal idealisme pendidik fresh graduate kampus pendidikan terbaik, menurutku. Sebagai guru Matematika baru bagi sekolah yang memang kekurangan guru bidang studi tersebut, tentunya hal ini adalah kesempatan emas untuk menunjukkan kualitas.  Bekal semangat yang membara bak prajurit Al-Fatih yang siap menaklukkan Konstantinopel, kulangkahkan kaki menapaki setiap jengkal tanah yang akan kutinggali dan kugarap potensinya setidaknya selama 1001 malam, atau sama halnya dengan seorang murid yang menuntaskan pendidikannya selama 3 tahun.
                Sekolah boarding berbeda dengan sekolah biasa. Di sekolah jenis ini aku dituntut memberi pelayanan yang lebih. Sehingga untuk menunjang aktivitas di boarding setiap karyawan mendapatkan fasilitas rumah dinas. Karena statusku yang masih lajang, aku bersama lima orang karyawan baru lainnya ditempatkan di satu rumah. Di rumah tersebut Nia menjadi teman kamarku.
Keinginan merasakan nafas kehidupan sebuah sekolah formal begitu menghinggapi jiwa. Tiba saat rapat kerja yang salah satu agendanya pengumuman struktur sekolah dan wali kelas dimulai. Visi peradaban yang ingin diwujudkan oleh para founding fathers tentunya membuat pengisian kursi-kursi penting di sekolah bukanlah sembarang orang. Mereka adalah sumber daya yang mumpuni dan memahami karakter anak didiknya.
                Sontak ketika namaku disebut, aku langsung kaget.
                “Ya, Bunda Ina menjadi guru matematika kelas 8 dan wali kelas 8 Khodijah”, tegas kepala sekolah.
                “Tapi pak, saya kan guru baru di sini, belum ada pengalaman. Ada yang lebih layak menjadi wali kelas” segera aku ajukan protes.
                ”Maaf bun, tidak ada SDM lagi” selorohnya seolah tak ada lagi celah untukku menolaknya.
                “Aku juga jadi wali kelas 7 nih. Mengajar Fisika juga di kelas 7. Waduh...” Nia merespon keputusan itu pula.
                Entah apa yang menarik dengan kelas 8 ini. Hanya saja setiap guru menjadi sibuk membicarakannya dan memberiku selamat.
                “Alhamdulillah, untung aku ga jadi wali kelas 8 Khodijah”, atau
                “Untungnya digantikan guru baru. Aduh, ga deh menghadapi si anu atau si ana...” kira-kira begitulah respon mereka.
                ”Ah, selama aku tidak meminta, semoga menjadi berkah bagiku” bisikku dalam hati.
                Seorang guru senior dan berwibawa menyapa dan membisikiku sesuatu, “Bun, ini kelas low dan banyak bermasalah. Bunda siap-siap saja ya…” sambil berlalu dan tersenyum menyeringai.
                Selepas rapat kerja, setidaknya dua malam sebelum tahun pelajaran baru dimulai, kulalui dengan segala macam pikiran yang mungkin itu sedikit bentuk bisikan setan yang menghembuskan keraguan dan sugesti negatif. Namun aku merasa tak sendiri. Seorang teman yang membawaku ke tempat ini selalu setia menemani dan menguatkanku, Bunda Nia.
                “Saudariku, tempat ini membutuhkan kehadiranmu. Bertahanlah, dan aku tahu kamu mampu. Semuanya mungkin meragukanmu dan anak didikmu di kelas itu, tapi buktikanlah mereka salah.” Begitu Nia bertutur menenangkanku.
***
                Upacara hari pertama dimulai, berikut berbagai pengumuman terkait komposisi kelas dan pekenalan guru baru. Hari itu tak ada KBM, tapi khusus pertemuan wali kelas. Kuamati calon anak didikku di kelas 8. Nampak kilauan wajah yang penuh dengan harapan dan keraguan. Wajah yang berharap bahwa tahun ini mereka jalani dengan lebih baik. Ya, setidaknya itu yang terlihat setelah aku dengar terjadi konflik antara kelas 9 dan kelas 8—persaingan antara anak sulung dengan anak kedua—tahun lalu hanya karena masalah kepindahan asrama.
                Perkenalan wali kelas dilaksanakan di kelas masing-masing. Energi positif kukumpulkan demi menyapa anak didikku di kelas 8 Khodijah. Salam pun kuhaturkan kala masuk, tapi kulihat wajah-wajah kuyu dan rendah diri.
                Tiba-tiba, seorang anak bertanya,”Ko kelas kita kaya gini sih bun, kita di grading ya?”, begitulah seorang Dian bertanya dengan polosnya.
                “Siapa yang mengatakan seperti itu?”, tanyaku
                “Ko tega sih bun…kita tahu kita juga nakal. Tapi kenapa mesti kita yang di kelas bawah? Kelas ini sama sekali ga ada yang ranking satu, ga ada yang pinter. Malu…”, beberapa anak ramai menolak kebijakan sekolah.
                Apa mau dikata, aku hanya mampu mengajak mereka berpikir positif bahwa semua ini agar pembelajarannya lebih fokus, agar treatment yang diberikan lebih mudah, dan sebagainya.
Seorang Mary bertanya,”guru kita ga akan diganti-ganti lagi kan bun?”
                “Insya Allah tidak. Bunda temani kalian sampai sampai kalian injakkan kaki di panggung wisuda kelulusan” yakinku pada mereka.
                Meski begitu, banyak anak yang berusaha tersenyum, tapi tak sedikit anak yang tetap mencemooh. Seiring dengan berbagai argumen yang dilontarkan para guru, para pencetus kebijakan pun belum benar-benar tahu apa yang akan dilakukan dengan sistem grading yang telah dibuat. Batinku, aku harus tetap bergerak dan melakukan sesuatu.
                Hari berikutnya aku tahu akan banyak hal menarik yang menghinggapi hidupku. Memang begitulah adanya. Di hari pertama aku mulai mengajar, seorang bunda memberiku pesan-pesan bijak kurasa, ya beliau Bunda Fulanah.
                ”Bun, maaf nih…anak-anak di sini kalau sudah terbiasa dan enak dengan guru yang lama, mereka susah menerima guru yang baru. Bahkan kita bisa habis oleh mereka, karena mereka kadang lebih tahu banyak hal daripada kita.”
                “Oya, sumpeh loe...maksudnya, oh, begitu bu? Hmm…tantangan yang lumayan ya?” jawabku, dengan suara yang memperlihatkan ketidakpercayadirianku. Hari itu dua kelas yang harus kulalui. Pikiranku penuh dengan berbagai siasat penaklukan kelas.
                “Assalamu’alaykum semua, perkenalkan nama bunda Ina Muslimah…bla...bla...bla...” aku memberikan salam dan mulai memperkenalkan diriku. Anak-anak hanya diam terpaku dengan wajah ragu.
                “Ayo kita senam otak dulu ya, semuanya tolong berdiri!” ajakku dengan semangat walau mereka menyeringai geli.
                Suasana kami mencair. Respon anak-anak terhadapku menjadi positif. Pertanyaan yang pernah kudengar kembali terlontar walau di kelas yang berbeda.
                “Bun, kita ga akan ganti-ganti guru lagi kan? Bunda harus bareng kita sampai lulus ya!” tanya Aufa meyakinkan.
                Setelah kuselidiki ternyata anak didikku ini terlalu sering dan terlalu cepat mengalami pergantian guru dalam satu tahun. Sayangnya yang terparah itu terjadi pada mata pelajaran Matematika.
                Kulewati hari itu dengan penuh semangat
                Kudapati bintangnya benderang
                Kurasa kartu As berada di tanganku saat itu. Andromeda, begitu nama angkatan kelas 8 ini disebut dari waktu ke waktu semakin kukenali semakin dekat. Kata-kataku cukup berpengaruh bagi mereka.
                Di setiap kelas yang kumasuki selalu ada anak-anak unik yang membuat jiwa petualangku menuntut untuk bernafas lega dan jiwa keingintahuanku berontak untuk mengeyangkan laparnya. Ah, tapi bagiku semua mereka luar biasa. Khususnya di kelasku, ada Mary yang memanggilku “Bu Mus”. Terlalu menyanjung kurasa, karena diriku sangatlah jauh dari taraf seorang Bu Mus Laskar Pelangi. Mary salah satu murid yang masuk dalam daftar “berkebutuhan khusus (bermasalah)”. pernah suatu kali dia berhasil mengisi lembar jawaban ulangan dengan penuh, dan ketika kubaca isinya amat kukagumi dan kusimpan baik-baik pada fileku. Mary menulis dua halaman surat berisi curahan hatinya padaku. kemudian ada Dian si Tomboy yang rajin membawa mobil Tamiya dalam kelas, dan masih banyak lainnya. Kebanyakan dari anak “berkebutuhan khusus” ada di kelasku, 8 Khodijah.
                Tiga bulan setidaknya 8 Khodijah mampu bertahan dengan komposisi yang sama, walaupun protes tentang kondisi mereka tetap berdatangan. Tentunya akupun bisa bertahan karena semangat dari seorang Nia. Setiap hari sepulang sekolah pasti kukeluarkan semua cerita tentang anak-anak didikku.
                “Bagaimana pekerjaan asrama kemarin, kalian bisa selesaikan?” tanyaku saat kelasku tengah berlangsung.
                “Bun, kita masih bingung tapi kita juga bingung mau tanya siapa. Di antara kita tidak ada yang benar-benar paham”, Lyan sang ketua murid memberiku penjelasan
                Ya, memang aku tahu diantara mereka tak satu pun yang memiliki dasar matematika yang baik. Sekedar kabataku (kali, bagi, tambah, kurang) masih banyak yang keliru.
                “Baiklah, mari kita bahas bersama ya. Ingat perjanjian kita, jika ada yang tidak paham wajib baginya untuk bertanya”
                Selalu di kelas ini kujelaskan secara rinci setiap konsep. Jika belajar ketika itu diibaratkan berlari dan tiga kelas yang lain berlari dengan kecepatan 60 km/jam, maka kelas ini berlari 25 km/jam. Jika tiga kelas lain cukup mengulas materi 1kali, kelasku mungkin harus 3-4 kali.
Bel pergantian jam berbunyi. Aku berpapasan dengan guru lainnya saat keluar kelas.
                “Aduh, sabar. Kelas 8 Khodijah setelah ini”, umpat guru tersebut.
                “Hai Bun, titip anak-anak saya ya. Terima kasih” pintaku.
                Memang tidak sedikit guru yang banyak mengeluh sebelum atau selepas mengisi kelasku. seperti komentar salah seorang guru berikut
                “Aduh bun, ampun deh...saya ga tahu harus gimana lagi di kelas Bunda. Mereka tuh pasif. Ditanya ini ga bisa, ditanya itu ga bisa. Ulangan remed terus.”
                “Bun, maaf. Klo boleh saya tahu berapa anak yang biasanya bertanya pada saat pelajaran Bunda?” tanyaku.
                “Nyaris ga ada. paling satu dua orang. Klo pun saya tanya juga pada diam. Ga tau deh Bun, cape nih” jawabnya dengan nada mengeluh.
                Aku tak ingin terlalu memikirkan perkataan guru lainnya, karena kupikir mereka akan sama saja mengeluh dan mengeluh tanpa menawarkan solusi.
                “Kalau begitu Bun, tolong katakan pada mereka ketika mereka bertanya atau menjawab semua akan dicatat dan dilaporkan pada wali kelas”, sedikit ide yang mungkin belum terpikir olehnya kutawarkan.
                Kurasa pekan itu adalah pekan yang membuatku gerah. Bagaimanapun wali kelas juga manusia. Aku  merasa ini hanya amanah yang seharusnya tidak bertumpuk pada tugas strukturalku sebagai wali kelas. Pihak berwenang yang seharusnya bertanggung jawab atas kondisi ini belum juga memberikan solusi konkret. Rekan guru satu jenjang pun angkat tangan tak merasa bertanggung jawab. Kulalui malam-malamku bersama seorang Nia yang mau mendengar isi hatiku. Aku pun mendiskusikan tentang rencanaku.
                “Aku akan membagi mereka dalam kelompok kecil yang terjadwal. Mungkin akan setiap malam aku menemani mereka. Boleh jadi beberapa kali mereka ke rumah”
                “Aku dukung rencanamu. Itu bagus. Tapi jangan terlalu malam ya. Mintalah ijin pula pada orang rumah yang lain”, dukung Nia
                Aku pun meminta ijin pada yang lainnya tentang penggunaan rumah untuk anak-anak belajar tambahan. Namun sepertinya ada yang tidak sepakat. Dia tidak berbicara langsung, tapi terlihat dari gesturenya.
                Tiba pada ketidaksiapanku. Beberapa anak datang ke rumah untuk belajar. Aku jelas tak dapat menolak.
                “Bun, kita mau belajar. Bingung dengan yang tadi dijelaskan” anak-anak beralasan
                “Baik, masuklah. Tapi mungkin belajar di atas, karena di bawah tidak kondusif. sudah pada tidur. dekat kamar bunda saja” jelasku.
                Mereka menikmati belajarnya diselingi curhatan ala remaja putri hingga pukul 9 malam lewat. Mereka pun akhirnya pulang.
                “Akhirnya aku bisa istirahat, hufft...” ucapku. Namun tiba-tiba dua orang teman serumah menyeretku ke salah satu kamar mereka dan menunjuk-nunjukku, aku hanya bengong dan syok.
                “Heh, sini Na! kamu tuh ya, ko bisa-bisanya anak-anak belajar di atas, ga lihat apa kondisi rumah?” protes temanku yang satu.
                “Iya Na, lagian ga usah sampe malam begini, berisik! Saya ga mau kamu bawa anak-anak lagi ke rumah” tegas teman yang lain dengan telunjuk menunjuk-nunjuk tepat di mukaku.
           Aku hanya terdiam dan segera masuk kamar. Tangisku pecah di kegelapan malam. Nia tak coba menghentikan tangisku. Dia hanya memperdengarkanku murattal dari Hpnya dan berpesan,”Sabar, ukh!”
        Kubiarkan air mataku mengalir di tengah lantunan ayat suci. Ayat demi ayat semakin dalam membawaku dalam ketenangan dan kekuatan. Hingga aku terlelap dalam tidurku.
***
           Setiap keputusan dalam kehidupan membawa kita pada kejutan-kejutan yang dibawa oleh keputusan tersebut. Kita tak pernah tahu apa yang akan dihadapi di masa depan. Ketika pertama kali kuputuskan untuk menginjakkan kaki dan menjadi seorang pendidik, aku tak pernah menyangka akan menghadapi liku masalah seperti ini. Di awal karirku sebagai seorang pendidik aku dipertemukan dengan anak-anak yang begitu homogen berdasarkan kasta intelektual. Uniknya aku mendapat kesempatan manis untuk menjadi wali kelas mereka dengan kategori kelas the lowest.  Ternyata waktu menahanku. Jika aku memilih mundur pada saat itu, aku belum tentu dapat melihat mereka tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang siap bertahan di tengah ketakberdayaan mereka atas sistem yang telah diterapkan, di tengah himpitan keluhan dan cemoohan, dikala yang lain berguguran.
             Seorang guru adalah pejuang peradaban yang semestinya mampu berhadapan dengan segala macam kondisi dan segala macam karakter siswa.
***